Kamis, 17 Desember 2015

CERITA CINTA DALAM SEPIRING NASI

Cerita Cinta dalam Sepiring Nasi 

 Hasil gambar untuk sepiring nasi cinta

Tahukah kamu, nak, betapa mewahnya sepiring nasi ini?

Jika saja kamu berpikir bagaimana sepiring nasi hangat ini sampai ke hadapanmu, dan siap serta halal untuk memenuhi rasa laparmu. Dalam sepiring nasi ini, dibalik rasa sepiring nasi ini, dibalik segala manfaat dari sepiring nasi ini, ada sesuatu yang lebih dari sekedar rasa dan lebih dari sekedar peran makanan untuk kita.

Kita renungkan sejenak di sebalik makna do'a yang terpanjat, sebelum kita mulai bersantap;

Bagaimana nasi ini berawal, tentunya dari bibit padi yang dipersiapkan dan dipilih seorang petani, kemudian ditanam diatas tanah sawah yang dirawat baik, ada beberapa orang yang berperan mengatur pengairannya, membersihkan sawah dari rumput - rumput liarnya, ada beberapa orang yang mengatur pupuknya, banyak orang yang dengan sepenuh hati mengelola sawah dan tanaman padinya, serta menjaganya dari serangan hama atau dari ribuan burung-burung yang menyantapnya ketika masa berbuah tiba.

Dari menjelang pagi mereka berangkat bekerja, tak terhalang terik sengatan matahari mereka tetap setia mengelola sawah dan padinya, bermandikan peluh penat, kulit yang terpanggang tak dihiraukannya. Dan tidak setiap orang bisa atau mau melakukannya.

Sementara alam pun menjadi peran cinta kasih yang besar, sang tanah dari bumi ini yang bak kasih ibu, memberikan kemurahan akan kesuburan bagi sang tanaman padi, air dan hujan, serta sinar matahari, menjadi makanan bagi kelangsungan tumbuhnya seluruh tanaman itu.

Musim panen tiba, semua petani berbahagia, seolah pesta raya. menuai hasil kerja keras mereka, sebagian digunakan untuk kebutuhan pangan sehari-hari, sebagian mereka jual ke pasar, seperti halnya kita dapatkan disana, meskipun kita membelinya dengan uang kita sendiri, namun tanpa mereka, tanpa petani-petani tersebut, tanpa orang-orang dipasar, tanpa para tenaga kuli yang memikul karung-karung besar beras tersebut, tidak akan pernah sampai ke rumah kita, bahkan kita masih membutuhkan api untuk memasaknya, ketelatenan serta kesabaran menunggu sampai tibanya sang nasi dalam piring ini.

Betapa banyak orang-orang yang berperan besar dalam sepiring nasi ini, tenaga mereka, pikiran mereka, perasaan mereka, keringat mereka, waktu mereka, dan cinta kasih mereka, serta kasih alam ini bekerja sama dalam satu harmoni dibawah kehendak dan cinta Illahi.

Masihkah kita hanya melihat makanan ini sebagai "hanya sepiring nasi?"

Bersyukurlah kepada Tuhan Nak, berterima kasihlah kepada alam, kepada orang-orang yang terlibat atas banyak cinta yang telah sampai kepadamu melalui sepiring nasi ini, jika kita sadari asal-usulnya, maka sepiring nasi itu tidak sekedar "hanya", namun rejeki, berkah serta hikmah yang mewah yang dapat menjadi nutrisi batinmu, rasa yang melampaui lezatnya cita rasa, dan tidak semua orang dapat dengan mudah mendapatkannya, tanpa kerja keras, bahkan diluar sana banyak yang berhari-hari hanya memunguti remah nasi sisa.

Berbahagialah, dan bagikanlah sebagian kebahagiaanmu kepada orang-orang yang dekat serta teramat membutuhkannya, meski hanya sepiring nasi, dan ceritakanlah asal-usul nasi tersebut penuh keceriaan, agar setiap suap nasinya menjadi perayaan syukur kepada Tuhan.


Jangan pernah sia-siakan sepiring nasi yang penuh cinta ini terabaikan hanya karena tidak ada lauknya, karena syukur adalah nutrisi kehidupan berbahagia. Selesai makan berdo'alah, do'akan pula semua orang-orang dan segala sesuatu dibalik kejadian sepiring nasimu tadi.


Selamat makan, habiskan dan jangan kau buang-buang lagi...
 
Diambil dari : ayah-widad.blogspot.com
 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar